Kiat karyawan laundry betah kerja

Di beberapa grup facebook tentang usaha laundry kiloan, salah satu pembicaraan yang sering dijadikan topik diskusi para pengusaha laundry, sulitnya mencari karyawan laundry yang betah.
Padahal kita sering mendengar atau mendapat keluhan, betapa pekerjaan itu susah, sementara ketika pengusaha laundry menydiakan lowongan kerja mereka kesulitan pekerja.

Bukan hanya sulit mendapat pekerja di laundry. Keluhan pengusaha laundry seringkali mengalami kesulitan mempertahankan pekerja. Dengan berbagai alasan, pegawai tidak bertahan. Saking sulitnya mencari pegawai di laundry, banyak usaha laundry yang gulung tikar, trutama jika ownernya sndiri bekerja di tempat lain sedangkan usaha laundry yang dijalankan sebatas sampingan.
Namun demikian tidak semua penguasaha laundry merasakan sulit mendapat karyawan. Tak sedikit yang mndapat karyawan betah juga produktif sesuai dengan harapan.
Hemat penulis, ada beberapa penyebab mengapa karyawan di laundry kurang betah atau sulit mendapat pekerja .

Pertama, usahakan dulu mendapat karyawan yang dekat secara psikologis. Bisa ajadi keluarga, teman, anak teman atau tetangga yang dekat. Hanya saja, kelemahan dari karyawan yang dekat secara prikologis, agak rikuh jika menerapkan kbijakan tegas.

Kedua, jadikan pekerjaan di laundry anda sangat “bergengsi”. Saya melihat bebrapa kasus karyawan laundry banyak yang tidak bertahan karena tidak merasa bangga dengan pekrjaan yang dijalankannya.
Banyak beranggapan, mencuci merupakan pekerjaan rendahan. Kesan yang masih menempel di masyarakat, mencuci pekerjaan orang yang tidak punya keahlian bahkan pendidikan rendah. Kesan seperti ini sering kita lihat dengan kenyataan, banyak ibu-ibu tua yang bekerja hanya mencuci antar rumah ke rumah dengan buruh minimalis.
Di samping itu, gambaran miring terhadap buruh nyuci seringkali terdengar baik dalam narasi berita TV atau koran “orang tua anak yang sakit itu Cuma buruh cuci harian”. Padahal di laundry mekanisme mncuci sudah sangat beda dan modern.
Salah satu cara memberi kebanggan terhadap pegawai laundry, berilah mereka motivasi, serta skil yang memadai. Hal yang sama beri mereka pakaian seragam serta identitas lain layaknya perusahaan profesional dan modrn.
Terkadang soal gaji menjadi nomor sekian, ketika karyawan sudah sangat betah dan merasa bangga. Saya sering mengamati, gaji laundry A lebih besar dengan gaji di prusahaan yang berbeda. Tetapi di perushaan tersebut karyawannya betah-betah, sementara di laundry A gonta-ganti karyawan.

Ketiga, masalah susahnya pegawai laundry, seringkali terlalu minim dalam hal salery pegawai. Ini soal klasik. Apakah gaji besar atau loyalitas karyawan terlebih dahulu. Umumnya usaha UKM tidak terlalu perhatian terhadap kesejahteraan karyawan. Bekerja bertahun-tahun kesejahtraan begitu-begitu saja, bahkan hingga mati tidak ada peningkatan.
Kondisi tersbut tidak berdiri sndiriri. Itu juga karna damapk dari usaha tempat si pekerja jalan di tempat. Bagaimana mensejahterakan karyawan, usaha yang sedang berjalan saja hanya mampu bertahan.
Dengan demikian, perbaiki manajemn usaha Laundry sehingga secara finansial mampu memberi kesejahteraan terhadap karyawan dan mereka betah serta bangga terhadap pekrjaannya. Lebih baik lagi fasilitas lebih baik, seperti liburan bersama, hingga asuransi.

Kiat di atas hanya beberapa contoh dalam menciptakan karyawan laundry anda betah. Banyak cara yang menurut anda lebih efektif, sesuai dengan pengalaman dan pengatahuan anda. Selamat mencoba. (*)